Aku Keliru (?)/
AKU KELIRU
Aku percaya bahwa satu-satu nya Wanita yang paling ku damba adalah ummah
Ummah yang mengandungku
Ummah yang melahirkanku
Ummah yang mendidikku
Ummah kandungku adalah Ibu
Sebentar,
Aku keliru
Aku tidak ingin buta sejarah
Aku tidak ingin pula buta masa depan
Kali ini aku ingin membuat syair untuk wanita-wanita Pendahulu dalam sejarah bangsa
Mungkin aku tak menuangkan satu persatu nama harum mereka
Namun, aku sedang rindu Ibu Kartini
Bu, sungguh aku sedang rindu
Rindu padamu
Wahai Ibu Kita Kartini
Seandainya hari ini kau melihat kami
Kami yang mungkin masih menjadi ;
Sosok ketidak teraturan yang minus dengan aturan
Sosok arogan yang minus dengan suatu kepatuhan
Sosok pelanggar yang minus dengan urutan petuah
Maaf jika masih mengecewakan
Ingin rasanya Kami
Seanggun langit pagi
Atau setenang jingga di akhir hari
Bu. Kami akan terus belajar, berproses, berkembang
Bukan untuk seperti harum Jasa dan Namamu
Karna kami tau
Cantikmu adalah kepribadiamu
Cerdasmu adalah terbentur untuk terbentukmu
Jasamu adalah proses keabadianmu
Namun akan Kami pastikan
Apapun yang kembali berulang nanti
Semua hal baik bahkan hal yang akan membenturkan sanubari
Kami tetap berdiri anggun, Bu.
Jadi semakin kokoh, Bu.
Mungkin kami sesak tapi jangan terisak
Lelah tapi jangan berhenti
Marah tapi sudahi
Bu, sungguh kami menangis haru
Terimakasih untuk setiap Jasa Mu
Untuk setiap keberpihakan Mu dalam khidmat darajat Wanita
Sekali lagi,
Terimakasih
Wahai Ibu Kita Kartini
Jakarta, 21 April 2020
Aku percaya bahwa satu-satu nya Wanita yang paling ku damba adalah ummah
Ummah yang mengandungku
Ummah yang melahirkanku
Ummah yang mendidikku
Ummah kandungku adalah Ibu
Sebentar,
Aku keliru
Aku tidak ingin buta sejarah
Aku tidak ingin pula buta masa depan
Kali ini aku ingin membuat syair untuk wanita-wanita Pendahulu dalam sejarah bangsa
Mungkin aku tak menuangkan satu persatu nama harum mereka
Namun, aku sedang rindu Ibu Kartini
Bu, sungguh aku sedang rindu
Rindu padamu
Wahai Ibu Kita Kartini
Seandainya hari ini kau melihat kami
Kami yang mungkin masih menjadi ;
Sosok ketidak teraturan yang minus dengan aturan
Sosok arogan yang minus dengan suatu kepatuhan
Sosok pelanggar yang minus dengan urutan petuah
Maaf jika masih mengecewakan
Ingin rasanya Kami
Seanggun langit pagi
Atau setenang jingga di akhir hari
Bu. Kami akan terus belajar, berproses, berkembang
Bukan untuk seperti harum Jasa dan Namamu
Karna kami tau
Cantikmu adalah kepribadiamu
Cerdasmu adalah terbentur untuk terbentukmu
Jasamu adalah proses keabadianmu
Namun akan Kami pastikan
Apapun yang kembali berulang nanti
Semua hal baik bahkan hal yang akan membenturkan sanubari
Kami tetap berdiri anggun, Bu.
Jadi semakin kokoh, Bu.
Mungkin kami sesak tapi jangan terisak
Lelah tapi jangan berhenti
Marah tapi sudahi
Bu, sungguh kami menangis haru
Terimakasih untuk setiap Jasa Mu
Untuk setiap keberpihakan Mu dalam khidmat darajat Wanita
Sekali lagi,
Terimakasih
Wahai Ibu Kita Kartini
Jakarta, 21 April 2020
💙💛
BalasHapus